Sabtu, 08 Oktober 2011

l4


  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hambatan suatu penghantar
  • Panjang kawat penghantar ( l )
Semakin panjang kawat semakin besar besar pula nilai hambatannya.
  • Luas penampang kawat penghantar (A)
Semakin besar penampang penghantar, semakin kecil nilai hambatannya.
  • Hambat jenis kawat penghantar ( ρ )
Semakin besar hambat jenis penghantar, semakin besar nilai hambatannya.
Secara matematis ditulis :
R   =  ρ.l /A

 
  1. Aliran arus listrik dalam suatu rangkaian tidak berakhir pada alat listrik. tetapi melingkar kernbali ke sumber arus. Pada dasarnya alat listrik bersifat menghambat alus listrik. Hubungan antara arus listrik, tegangan, dan hambatan dapat diibaratkan seperti air yang mengalir pada suatu saluran. Orang yang pertama kali meneliti hubungan antara arus listrik, tegangan. dan hambatan adalah Georg Simon Ohm (1787-1854) seorang ahli fisika Jerman. Hubungan tersebut lebih dikenal dengan sebutan hukum Ohm.
    Setiap arus yang mengalir melalui suatu penghantar selalu mengalami hambatan. Jika hambatan listrik dilambangkan dengan R. beda potensial V, dan kuat arus I, hubungan antara R, V, dan I secara matematis dapat ditulis:


Hukum Kirchoff
Arus listrik yang melalui suatu penghantar dapat kita pandang sebagai aliran air sungai. Jika sungai tidak bercabang, jumlah air di setiap tempat pada sungai tersebut sama. Demikian halnya dengan arus listrik.


Jumlah kuat arus yang masuk ke suatu titik percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik percabangan tersebut. Pernyataan itu sering dikenal sebagai hukum I Kirchhoff karena dikemukakan pertama kali oleh Kirchhoff.
Maka diperoleh persamaan :I1 + I2 = I3 + I4 + I5
I
masuk = I keluar
k

  1. Dalam praktek, mengukur arus yang lewat itu sama dengan membuat pencabangan atau rangkaian paralel antara rangkain yang diukur dengan ampere meter,

    jadi, jika I adalah arus yang ingin kita ukur maka arus I akan terbagai menjadi:

    I = I (amp) + I (rangkaian)


perbandingan I (amp) dan I (rangkaian) berbanding terbalik dengan besar hambatan dalam masing2 (sesuai hukum rangkaian paralel yang biasa)

jadi agar besar I (amp) mendekati I yang diukur, maka hambatan dalam ampere meter harus dibuat sekecil mungkin.

  1. Energi disipasi dapat berarti energi yang hilang dari suatu sistem. Hilang dalam arti berubah menjadi energi lain yang tidak menjadi tujuan suatu sistem. Timbulnya energi disipasi secara alamiah nggak dapat dihindari 100%. Contohnya
    1) Energi panas yang timbul akibat gesekan. Dalam hal ini timbulnya gesekan dianggap merugikan. Rumusnya ya W = f.s di mana f adalah gaya gesekan dan s adalah perpindahan benda.
    2) Energi listrik yang terbuang akibat adanya hambatan pada kawat penghantar. Rumusnya ya W = I^2 R.t (I kuadrat kali R kali t) di mana I adalah kuat arus listrik, R hambatan listrik dan t adalah waktu.
    3) Energi panas pada trafo. trafo itu dikehendaki untuk mengubah tegangan. Namun pada kenyataan timbul panas pada trafo. Panas ini dapat dianggap energi disipasi.
    dan masih banyak lagi.
    Daya berarti energi tiap satuan waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar